MITOS ATAU FAKTA MINUM SODA SETELAH OLAHRAGA BISA MERUSAK GINJAL?

0
389
70406168 - poznan, poland - jan 18, 2017: global soft drink market is dominated by brands of few multinational companies founded in north america. among them are pepsico, coca cola and dr. pepper snapple group

Jika sudah kelelahan kita rasanya ingin cepat-cepat menenggak berbagai macam minuman yang bisa mengembalikan kesegaran tubuh kita. Bagi teman-teman yang sudah sadar akan pentingnya air putih, pasti akan memilih untuk minum air putih dibanding minuman lainnya.

 

Namun, masih ada teman-teman lain yang lebih memilih minuman manis seperti minumanan isotonik, susu, sari buah, atau bahkan sekaleng soda.

Ada yang mengatakan minum soda setelah olahraga bisa membahayakan ginjal kita. Apa benar begitu, ya?

 

 

Ternyata minum soda tidak hanya berbahaya bagi kesehatan dalam jangka-panjang, teman-teman. Sebuah penelitian menemukan bahwa minum soda setelah olahraga dapat meningkatkan risiko cedera ginjal akut. Hal ini berkaitan dengan perubahan aliran darah menuju ginjal saat kita berolahraga.

 

Aliran darah menuju ginjal berkurang ketika kita berolahraga dalam lingkungan yang panas. Ini merupakan mekanisme normal.Akan tetapi, penurunan aliran darah secara drastis juga dapat menurunkan pasokan oksigen yang dibutuhkan jaringan ginjal sehingga mengakibatkan kerusakan pada ginjal kita.

 

Rata-rata, satu kaleng minuman bersoda mengandung sekitar sepuluh sendok teh gula tambahan. Sebelumnya, WHO telah memberikan rekomendasi mengenai asupan gula maksimal, yakni tidak melebihi enam sendok teh dalam sehari.

 

tu berarti, jika kita minum sekaleng soda setelah olahraga akan memberikan tubuh kita asupan gula melebihi batas maksimal yang dianjurkan. Selain tinggi gula, minuman bersoda juga banyak mengandung kafein dan garam rafinasi.

Minuman ini pun bersifat asam sehingga dapat mempercepat pembusukan pada lubang di gigi kita, lo. Minuman bersoda sebenarnya boleh dikonsumsi dalam jumlah sedikit, tapi konsumsinya dalam jangka panjang dan rutin dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti darah tinggi, diabetes, obesitas, dan juga penyakit jantung.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here