INI FAKTA KAISAR ‘GILA’ CALIGULA DAN NERO

0
3400

1. Caligula Membuat Bangkrut Romawi

Kaisar Caligula gemar menghamburkan anggaran Romawi selama 4 tahun kekuasaannya (dari 37 hingga 41 M).

Seperti lazimnya kaum pria usia 20-an, sesekali ia menyenangi pesta-pesta. Memang benar terjadi peningkatan pertandingan, festival, dan sirkus, sehingga ada sejumlah laporan kala itu yang menyebut Caligula membuat bangkrut salah satu kekaisaran paling kaya pada zamannua. Tapi, sejumlah bukti yang lebih adil bercerita lain.

Hingga saat akhir kekuasaannya, pemerintahan Caligula mencetak koin emas dan perak dalam jumlah sangat besar. Bahkan, tak lama setelah ia meninggal, Claudius yang menggantikannya telah memulai proyek-proyek dan pembiayaan sosial yang tidak mungkin dilakukan tanpa sisa kekayaan negara yang diwariskan oleh Caligula.

Claudius membangun akuaduk (saluran air), memulai pelabuhan buatan di Ostia, menduduki Inggris, dan melanjutkan pertarungan dan pertunjukan para gladiator.

Semua dilakukan tanpa menaikkan pajak dan setelah membayar sumbangan besar kepada para prajurit. Jadi sangat mungkin kalau semua ini dibiayai dari penambahan harta negara pada masa Caligula.

 

2. Nero Membunuh Ibunya Sendiri


Benar, tapi kisah ini lain konteksnya dengan masa kini. Bagi kita sekarang, “ibu” adalah wanita yang melahirkan, sosok baik hati yang merawat kita tanpa pamrih.

Bagi Nero, ibunya yang dikenal sebagai Agrippina Muda, adalah wanita yang menikahi pamannya sendiri, bersekongkol melawan keluarganya, dan tega membunuh demi mencapai tujuan memuluskan jalan menuju takhta bagi putranya yang akan dikendalikannya.

Nero naik takhta pada saat masih berusia 16 tahun dan Agrippina bisa saja memerintah melalui pengaruhnya pada Nero seandainya tidak ada filsuf tegas bernama Seneca yang menjadi penasehat terkenal bagi Nero.

Karena pengaruh filsuf itu, tahun pertama pemerintahan Nero diwarnai keputusan yang masuk akal dan bijak. Karena kalah kuat, Agrippina menjadi geram dan berkomplot melawan putranya sendiri.

Untuk merendahkan Nero di mata para prajurit dan rakyat jelata, Agrippina mengaku memiliki cinta sedarah dengan anaknya itu.

Campur tangan ibunya dalam urusan pribadi dan jabatan Nero terbukti berdampak buruk.

Karena itu, bahkan Seneca yang rasional pun bisa setuju untuk menyingkirkan Agrippina. Lalu diupayakanlah melakukan pembunuhan yang pura-pura sebagai kecelakaan. Seorang anggota pasukan melakukan perintah terencana Nero untuk menghabisi perempuan itu dengan pedang.

 

3. Caligula Menarik Pajak Mencekik dari Rakyat

 

Melihat pengalaman Claudius yang menjadi penerus Caligula, bisa kita duga Caligula mewariskan harta negara dalam keadaan baik. Tapi, muncullah tuduhan penarikan pajak yang mencekik.

Kaum arisitokrat, misalnya Suetonius, menuliskan beberapa dekade setelah kekuasaan Caligula, bahwa pajak yang diterapkan menjadi beban berat bagi rakyat jelata Romawi. Tapi kenyataannya mungkin sekali berbeda.

Caligula malah sebenarnya paling populer di mata warga jelata. Keberaniannya mendapat hati bagi kebanyakan warga, kecuali di kalangan senator — sebagai kelompok yang dikenai pajak.

Kelompok itulah yang menuliskan buku-buku pembentuk pandangan kita sekarang tentang Romawi Kuno. Hal ini menjelaskan beberapa hal yang tidak konsisten, misalnya tentang tuntutan rakyat untuk penyidikan atas pembunuhan Caligula — bukannya malah bersenang-senang atas wafatnya Sang Kaisar.

Caligula melakukan segala upaya untuk mendengarkan pendapat umum, demikian juga halnya dengan urusan pajak yang sedang-sedang saja. Bahkan ada beberapa kebijakan pajak yang kemudian dijadikan peraturan menetap oleh para penerusnya.

 

4. Nero Bernyanyi dan Menari ketika Roma Terbakar

Pertama-tama, tidak mungkin Nero memainkan alat musik yang belum ada pada saat itu. Lebih daripada itu, ia kemungkinan tidak berada di Roma ketika kota sedang terbakar hebat.

Sejumlah kesaksian pada masa itu tidak sepakat tentang apakah Nero memang bernyanyi. Yang kita tahu, kaisar penggemar teater ini mungkin mencoba berduka melalui nyanyian, bukan pidato.

Teori ini masuk akal ketika kita mengamati bahwa, setelah kembali ke kota, Nero menggerakkan upaya bantuan besar-besaran dan menetapkan peraturan ketat tentang bangunan untuk mencegah terulangnya kebakaran selama seminggu lamanya di Roma.

Nero menugaskan beberapa pekerjaan publik dengan maksud memulihkan Roma. Bahkan ahli sejarah bernama Tacitus, musuh besar Nero — mengakui bahwa Roma yang baru merupakan perbaikan dari yang sebelumnya.

Memang benar, istana mewah Nero yang segera dibangunnya setelah kebakaran membayangi kebaikan dan bantuan yang telah diupayakannya. Seandainya ia membangun di tempat lain atau pada waktu lain, mungkin ia bisa lolos dari banjir celaan dan kemarahan.

 

5. Caligula Bersetubuh dengan Saudara Perempuannya

Dalam pandangan modern, hubugan yang intim antara Caligula dengan saudara perempuannya seakan menjadi bukti kebejatannya. Tapi, beberapa bagian dunia purba berjalan menurut kebiasaan sosial yang berbeda. Apalagi di kalangan ningrat.

Kekaisaran Roma dan Caligula sendiri masih muda. Romawi masih tidak mengenal hukum absolutis dan Caligula tidak mempunyai teladan sebelumnya.

Ada bukti kuat yang mengisyaratkan bahwa kaisar muda itu sangat dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan Helenistik dan Timur Dekat dengan kelaziman aturan absolutis mereka dan garis keturunan biasanya dipertahankan melalui pernikahan sedarah (incest).

Sebagian dari daya tarik Caligula merujuk kepada garis keturunan Julian. Tentu saja Caligula merupakan seorang petualang seksual, tapi hubungannya dengan saudara perempuannya dimotivasi antara lain oleh upayanya menjaga kemurnian garis keturunan Julian dan untuk mendapatkan keturunan yang tidak perlu dipertanyakan asal usulnya.

Betul, “pengaruh Timur” ini seakan menyinggung perasaan warga Roma. Caligula sadar akan hal itu, tapi bersikeras meneruskan kemauannya dengan membangun patung-patung saudara perempuannya.

 

6. Caligula Menjadikan Kuda Sebagai Penasehat

Hal ini termasuk salah satu yang paling terkenal tentang Caligula, dan mungkin sekali memang benar adanya. Tapi, Caligula tidak mengangkat kudanya sebagai penasehat karena gila.

Ia meluapkan kekesalannya terhadap para senator yang terus-menerus menyusahkannya seakan-akan mereka hanya secerdas seekor kuda.

Padahal, seperti sudah pernah disangkal dalam beberapa laporan, kuda Caligula tidak pernah benar-benar menjadi penasehat.

Banyak cendekiawan berpendapat bahwa Caligula berjanji mengangkat kuda itu ke jabatan tertinggi dalam pemerintahan sebagai bentuk guyonan sinis.

Roma, terutama kelompok aristokrasinya, gemar berpura-pura seakan negara itu bukan absolutis dan mereka bertindak-tanduk seperti masih dalam pemerintahan republik lama. Seperti disebut sebelumnya, Caligula unjuk gigi sejak awal.

Sejumlah sumber menjelaskan Caligula memiliki selera humor yang agak kejam dan menghina, tapi begitulah rata-rata seorang yang masih berusia 24 tahun.

Ketika Caligula berjanji mengangkat kudanya menjadi penasehat, bisa dibilang ia memperingatkan para penulis biografinya di masa depan bahea karir, posisi sosial, dan keberadaan mereka tidak ada artinya dan bergantung sepenuhnya kepada kemauan sang kaisar. Bisa diduga, tidak banyak yang sanggup tertawa melihat guyonannya ini.

 

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk kalian semua 🙂

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here