Channel E – Film berjudul Darah Daging yang dibintangi Ario Bayu, Estelle Linden, Donny Alamsyah serta Tanta Ginting akan rilis di bioskop mulai Kamis pekan ini (5/12/2019). Film laga ini memiliki nilai lebih dalam bagi dunia perfilman.

Drama keluarga yang dipertontonkan sehingga bisa jadi satu pilihan untuk disaksikan menjelang Hari Ibu. Film drama ini menjadi debut penyutradaraan Sarjono Sutrisno yang terinspirasi dari perampokan yang pernah terjadi di kota Medan.

“Film ini terinspirasi dari perampokan yang pernah terjadi di Medan sepuluh tahun lalu. Cuma latar belakang ceritanya kita mengarang. Dan personality karakternya saya ambil dari abang-abang saya,” kata Sarjono usai press screening Darah Daging di Epicentrum XXI, kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (2/12/2019).

gambar istimewa

Produser Aswin Siregar Mengatakan, “Akhirnya terjawab sudah untuk trailer kedua, kalian tahu bagaimana filmnya,” saat press screening di Epicentrum XXI, kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (2/12/2019).

Sebelumnya ia juga menanyakan kepada teman-teman media yang hadir mengenai penilaian pada filmnya, dan serentak menjawab “bagus”.

Film ini terinspirasi dari perampokan yang pernah terjadi di Medan sepuluh tahun lalu. Cuma latar belakang ceritanya kita mengarang. Dan personality karakternya saya ambil dari abang-abang saya,” kata Sarjono Sutrisno menceritakan latar cerita dan inspirasi film ini.

Skenario Darah Daging ini ditulis oleh Beby Hasibuan. Siapa menyangka bila proses penulisan skenario tersebut memakan waktu sampai delapan tahun lamanya sebelum digunakan untuk syuting pada September 2018.

“Proses penulisan skenario kedengaran panjang, tapi ada jeda dengan film-film lain. Akhirnya baru di tahun 2014 intens nulisnya. Kalau dihitung dari awal sampai akhirnya rilis memang sembilan tahun,” jelas Beby ditemui di tempat yang sama.

Selama delapan tahun proses penulisan skenario, Beby Hasibuan sampai membuat 32 draf sebelum akhirnya dikunci. Karena dalam tahun-tahun perjalanan, banyak hal harus dibenahi.

“Skenarionya sudah ada dari delapan tahun. Revisi skenarionya sampai 32 draf karena blum sreg, kurang ini, kurang itu,” tambah Sarjono Sutrisno yang turut mengawal proses penulisan skenario.

Rae Sahetapy juga menceritakan kenapa dirinya ingin terlibat di film ini, “Di film ini saya masuk sebagai satpam, padahal sebulan kemudian saya berperan sebagai jendral di film lain.

Itu kan suatu keberanian. Saya pikir saya ingin tahu film ini, saya kan belum nonton, saya juga hanya tahu beberapa teman pemain. Kita harus cerdas dalam membuat film. Oleh karena itu gagasan dalam sebuah film itu sangat penting, agar mereka tahu siapa kita sebenarnya melalui karya kita.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here