Channel E – Akhir-akhir ini kasus depresi yang berujung bunuh diri pada artis dan idol asal Korea Selatan masih menjadi sorotan. Bahkan, kasus bunuh diri ini seperti layaknya budaya karena tak berhasil ditangani dengan baik oleh pihak agensi ataupun pemerintah setempat, seolah-olah depresi bukanlah masalah serius.

Kasus bunuh diri yang meningkat di antara para idol pun menjadi cambuk bagi semua kalangan yang seharusnya membantu untuk mencegah kasus bunuh diri jadi lebih meningkat.

Lalu, apa saja hal-hal yang akhirnya membuat para idol menderita depresi hingga menyebabkan mereka berpikiran untuk mengakhiri hidupnya?

1. Menjadi Trainee dan Debut di Usia Sangat Muda

Gambar Istimewa

Ada banyak idol KPop yang debut saat umurnya masih belia antara 10 hingga 17 tahun. Bahkan mereka sudah harus merasakan hidup sebagai trainee saat masih duduk di bangku sekolah dasar demi mencapai cita-citanya sebagai artis terkenal. Mereka harus rela tinggal di dorm dengan trainee lain yang usianya jauh lebih tua dan menjalani kehidupan sebagai trainee hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Park Jong Seok, seorang dokter dari Yonsei Bom Psychiatry, Seoul, Korea Selatan mencatat jika ada banyak selebritis Korea yang memulai debut-nya pada usia muda dan akhrinya menderita depresi.

Contohnya adalah kasus depresi yang berujung bunuh diri pada Sulli eks member f(x) beberapa waktu lalu. Gadis itu memulai kariernya sebagai aktris cilik pada tahun 2005 silam di usianya yang menginjak 11 tahun. Di tahun yang sama pula ia lolos audisi dan menjadi trainee SM Entertaiment. Ia harus tinggal di asrama dengan trainee lain yang usianya jauh lebih dewasa darinya selama bertahun-tahun.

Menjadi trainee dan debut di usia muda berhasil membuat mereka, para selebritis Korea Selatan merasa tertekan karena harus ‘dewasa sebelum waktunya’ dalam menghadapi peran mereka sebagai trainee atau idol yang baru debut di usia yang masih sangat belia.

2. Tekanan Hidup Sesuai Dengan Standar Publik

Gambar Istimewa

Standar yang ditetapkan publik, agensi, dan media di Korea Selatan sangatlah tinggi. Standar tadi meliputi standar kecantikan, seperti bentuk tubuh yang super langsing, memiliki kelopak mata ganda atau double eyelid, hidung mancung, hingga proporsi wajah yang ideal dan ‘sempurna’.

Contoh lainnya adalah seperti yang dikatakan salah satu kritikus musik Korea Selatan, Kang Moon, yaitu budaya “idola” yang diperkenalkan pertama kali oleh salah satu agensi terbesar di Korea Selatan, SM Entertaiment pada tahun 1990-an akhirnya menjadi standar dalam industri musik KPop, di mana saat ini semua agensi di Korea Selatan memiliki ‘standar idol’ mereka masing-masing.

Standar tadi juga nantinya juga akan mewakili image agensi itu sendiri. SM Entertaiment juga merupakan agensi pertama yang mencetuskan sistem trainee bagi para calon idol tadi.

Para idol dituntut untuk tampil tanpa celah, baik itu dari sisi visual, kepribadian, maupun perilaku mereka di hadapan publik. Hal inilah yang membuat beberapa idol memutuskan untuk melakukan perubahan pada bentuk tubuh dan wajah mereka yang dianggap ‘tidak sempurna’ agar tetap bisa memukau di hadapan publik.

Mau tidak mau, mereka harus melakukan semua hal tadi agar kariernya tidak terancam di dunia entertaiment Korea Selatan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here