Channel E – Habibie dan Ainun yang dirilis 7 tahun silam hingga kini menjadi film terlaris kelima sepanjang sejarah. Mengumpulkan 4,5 juta penonton, film ini melahirkan Rudy Habibie (2016) serta Habibie dan Ainun 3 yang memotret masa muda Ainun.

Habibie dan Ainun 3 masih menempatkan Reza Rahadian sebagai pemeran utama sekaligus pengantar cerita. Lepas dari Bunga Citra Lestari, tokoh Ainun dipercayakan pada Maudy Ayunda.

Habibie dan Ainun 3 memulai cerita dari masa kini, sebelum Habibie mangkat. Naskah Habibie dan Ainun 3 dipoles Ifan Ismail yang dulu menulis Habibie dan Ainun (2012) dan berbuah Piala Citra

Dikisahkan, Habibie (Reza) berkumpul bersama dua anaknya, Ilham (Mike) dan Thariq (Tegar), menantu, dan para cucu. Saat makan malam, salah satu cucu Habibie, Tiffany (Anodya) penasaran dengan Eyang Putrinya. Habibie lantas bercerita soal masa kecil Ainun (Maudy). Ainun anak seorang bidan Besari (Marcella).

Ia ingin kuliah di Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia. Mimpinya terwujud. Jadi mahasiswa, Ainun berteman dengan Arlis (Aghniny). Suatu hari, ia bertemu Ahmad (Jefri) anak Fakultas Hukum UI.

Ainun dan Ahmad jatuh hati. Rupanya, Ahmad anak Profesor Husodo (Arswendy), dosen Ainun yang terkenal tegas sekaligus dingin. Saat piknik ke pantai, Ainun menanyai Ahmad soal rencana masa depan. Sayang, jawaban Ahmad tak sesuai harapan.

Di pantai itu, seorang anak memainkan pesawat dari kertas. Saat itulah, Ainun teringat teman SMA-nya, Rudy Habibie. Kepada Ainun, Rudy berencana ingin kuliah konstruksi pesawat di Jerman lalu kembali untuk membangun Pertiwi. Ia ingin membuat pesawat yang memudahkan transportasi lintas pulau.

Ditangani penulis yang dulu mempertemukan Habibie dan Ainun di layar lebar, alur film ini mengalir lancar. Yang menarik dari Habibie dan Ainun 3 penokohan yang bersahaja, menghindari kesan dramatis maupun emosional, dan menempatkan para karakter di titik realistis.

Tak ada hitam dan putih layaknya sinetron karena setiap karakter datang dengan latar dan motivasi. Hanya, latar dan motivasi setiap tokoh dijabarkan dengan teknik berbeda. Ainun, Habibie, dan Ahmad jelas mendapat porsi lebih. Latar mereka sebening Kristal. Di belakang mereka ada sosok-sosok yang membentuk.

Sementara tokoh Agus yang tampak antagonis, punya alasan mengapa emosinya mudah meledak dan menjadikan orang tertentu musuh. Latar belakang dijelaskan secara lisan namun ia jadi riak.

Kehidupan Ainun yang adem ayem terasa punya gejolak olehnya. Agus hadir sebagai pembanding, yang memungkinkan penonton menentukan sikap kepada siapa simpati mesti diberikan.

Di sisi lain, kisah cinta Ainun dan Ahmad yang dikemas elegan. Cinta keduanya dijahit untuk menghindari konflik receh seperti salah paham, cemburu, restu orang tua, atau gesekan kasta. Menyentuh prinsip, sudut pandang, dan masa depan, pertalian Ainun dan Ahmad unik.

Intepretasi Maudy sebagai Ainun pun pas. Wajahnya tidak mirip mendiang Ainun. Bahkan, bagi kami struktur wajah BCL lebih mendekati. Namun ada beberapa adegan close-up dengan angle tertentu yang membuat wajah Maudy tampak lebih bulat dan itu mengingatkan kami pada Ibu Ainun. Maudy menjelma, kamera membingkai.

Yang juga mencuri perhatian, Jefri Nichol. Di tangan Jefri, Ahmad lebih dari sekadar tampan. Kalau cuma tampan, kami kok percaya di zaman itu, UI tak kekurangan stok mahasiswa uwu. Ada karisma yang memancar dari wajah Jefri. Pembawaan Ahmad serta jalan pikirannya yang eksentrik membuat Ainun mau mendekat.

Lalu ada satu adegan penentu yang menyadarkan kita bahwa dalam cinta, ketertarikan fisik saja tidak cukup. “Kita berada dalam buku yang sama tapi halaman berbeda,” kata Ainun.

Kesimpulan pahit ini direspons Ahmad dengan teriakan tanda kecewa. Sementara Ainun punya cara sendiri untuk mengekspresikan sedihnya.

Bagi kami, kisah cinta di Habibie dan Ainun 3 beda dan lebih berkelas. Kedalaman emosi tak hanya digambarkan lewat tangisan atau dialog berapi-api. Ia juga tidak mengkhotbahi kita soal nasionalisme seperti di Rudy Habibie. Film ini membawa cinta Tanah Air sebagai sesuatu yang dekat, disampaikan layaknya sedang curhat dengan sahabat.

Habibie dan Ainun (2012) menyadarkan kita soal cinta sejati. Kaya emosi dan konflik. Ia membuat penonton menangis di bioskop. Habibie dan Ainun 3 punya cara sendiri memainkan emosi penonton. Fokusnya ada di Ainun dan bagaimana jati dirinya terbentuk. Untuk membentuk orang besar tak harus dengan momen-momen besar.

Kita melihat karakter Ainun dari kecil, saat ia menyanyikan “tak lela-lela-lela ledung.” Lalu hatinya tergerak belas kasih. Ia kembali mekar bersama tangis tanpa kata di lorong rumah sakit dan setumpuk momen kecil lain yang membuat mata penonton berkaca dan jantung berdesir.

Dalam rentetan momen itulah, kita melihat tangan dingin Hanung bermain. Bagi yang kadung jatuh hati dengan Habibie dan Ainun (2012) mungkin merasa film ini kurang bergejolak. Namun percayalah bahwa ada generasi lain di luar sana yang siap dirangkul Habibie dan Ainun 3.

Habibie dan Ainun 3 salah satu calon box office yang diharapkan menjadi penutup manis akhir tahun ini. Menilik aspek efek visual, artistik, dan akting, film ini sangat mungkin menjadi nomine di sejumlah festival film tahun depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here