Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,halo sahabat kanal pengetahuan islam kali ini kita akan membahas al-battani astronom muslim penentu jumlah hari.

gambar istimewa

Al-Battani merupakan salah seorang ahli astronomi dan matematikawan muslim pada abad pertengahan yang cukup berpengaruh. Salah satu karyanya yang cukup populer adalah Kitab al-Zij, yang pada abad ke-12 diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul De Scientia Stellarum atau De Motu Stellarum.Berkat penemuannya, saat ini kita bisa mengetahui bahwa dalam setahun ada 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik (sumber lain menyebut 365,24 hari). Penemuan Al-Battani ini dianggap akurat, bahkan keakuratan pengamatan yang dilakukan Al-Battani ini membuat seorang matematikawan asal Jerman bernama Christopher Clavius menggunakannya untuk memperbaiki kalender Julian.

Pengikut dan Penyempurna Teori Ptolomeus

Al-Battani lahir sekitar tahun 858, di Harran. Ia memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Sabi al-Battani. Orang Eropa menyebut Al-Battani dengan sebutan Albategnius. Ia adalah anak dari ilmuwan astronomi, Jabir Ibn San’an Al-Battani. Keluarga Al-Battani merupakan penganut sekte Sabian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun, Al-Battani tidak mengikuti jejak nenek moyangnya. Ia memilih memeluk agama Islam.

Al-Battani terpesona dengan teori kosmologi geosentris yang berkembang pertama kali di Yunani. Meskipun Al-Battani adalah pengikuti teori kosmologi geosentris Ptolomeus, namun data observasinya berjasa bagi Nicholas Copernicus untuk mengembangkan teori kosmologi heliosentris yang turut mempelopori revolusi sain pada abad ke-16 dan 17. Seperti Astronom Arab lainnya, Al-Battani mengikuti tulisan-tulisan Ptolomeus dan mengabdikan dirinya untuk mengembangkan karya Ptolomeus, The Almagest. Saat mempelajari The Almagest inilah Al-Battani menemukan penemuan besar, yaitu titik Aphelium. Titik Aphelium adalah titik terjauh bumi saat mengitari matahari setiap tahunnya.

Baca Juga :  TRADISI UNIK SHOLAT JUM'AT DI BERBAGAI NEGARA

Ia meninggal pada tahun 929 di Qar al-Jiss (sekarang di Irak modern) dalam perjalanan pulang dari Bagdad. Berabad-abad setelah kematian Al-Battani, ringkasan pemikirannya yang terangkum dalam Kitab al-Zij masih digunakan sebagai pedoman pada zaman Renaisance dan memberikan banyak pengaruh terhadap astronom dan astrolog Barat. (Joseph A. Angelo, JR, Encyclopedia of Space and Astronomy, 2006). Al-Battani dianggap sebagai astronom terbaik dan terkenal dari peradaban Islam pada abad pertengahan. Salah satu karyanya yang paling populer, yakni Kitab al-Zij, kemudian pada abad ke-12 diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robertus Retinensis. Pada abad ke-13, Raja Alfonso dari Spanyol kembali menterjemahkan Kitab al Zij tersebut.

BACA JUGA http://Bapak Sosiologi Islam Ibn Khaldun

Untuk info selanjutnya? yuk langsung aja mampir ke channel youtubenya “Kanalpedia Islam”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here