23.5 C
Jakarta
Friday, July 12, 2024

Sejarah Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Karya Raden Saleh

Raden Saleh menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar melukis di negara-negara Eropa. Dimulai dari Belanda, mengantarkannya bertemu guru melukis sekaligus jadi juru tulis. Keberangkatannya ke negara Ratu Wilhelmina tersebut juga atas pembiayaan pemerintahan Hindia-Belanda yang saat itu ‘musuh’ warga pribumi.

Pendidikan yang berbeda dari kalangan rakyat pada waktu itu, mengantarkan Raden Saleh sebagai pelukis termahsyur. Kini, salah satu karyanya yang melukiskan Pangeran Diponegoro kembali populer. Sejarah lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro ini diyakini sebagai bentuk kecaman Raden Saleh terhadap pemerintahan Belanda saat itu. Lantas, bagaimana kelanjutan dari sejarahnya? Yuk, langsung saja disimak artikel dibawah ini:

Raden Saleh dan Hindia Belanda

Ilustrasi Raden Saleh

Raden Saleh memiliki hubungan yang erat dengan pemerintahan Hindia-Belanda. Terlihat dari bagaimana pejabat negara pada masa tersebut memberikan kesempatan kepada Raden Saleh untuk melanjutkan studi melukis ke negara asal Ratu Wilhelmina ini.

Di sana, orang-orang di Belanda pun naksir berat dengan karya Raden Saleh. Sebagian besar terheran-heran, bagaimana seorang pribumi mempunyai taste dan teknik melukis yang mumpuni, nyaris menyaingi pelukis luar negeri. Kemampuan seninya juga sempat mengantarkan Raden Saleh menjadi pelukis resmi Istana Belanda.

Pendidikan tinggi dengan kemampuan luar biasa, membuat pemerintah Hindia-Belanda pada masa itu melarang Raden Saleh kembali ke tanah air. Alasannya, takut Raden Saleh menjadi otak pemberontakan dengan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya.

Meski sebagian besar karyanya ditujukan untuk pemerintahan Belanda. Jiwa Raden Saleh tetaplah sama, ia mencintai tanah kelahirannya. Raden Saleh pun menunjukkannya melalui salah satu karyanya yang berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro”.

Sejarah Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro”

Ilustrasi Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro”

Petunjuk pertama sejarah lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” tertuang dalam surat Raden Saleh. Surat yang ditujukan kepada Adipati Ernst II dari Sachsen-Coburg dan Gotha pada 12 Maret 1857 tersebut, berisi pengakuan Raden Saleh yang telah menyelesaikan sebuah lukisan.

Dalam surat tersebut, Raden Saleh juga menyatakan bahwa lukisan yang telah  dirampungkan menggambarkan penangkapan Kepala Suku Jawa, Dipanegara. Tak hanya itu, di dalam surat juga memuat keterangan bahwa ia melukiskan karya tersebut untuk Paduka Yang Mulia Belanda.

Faktanya, peristiwa dalam lukisan tersebut merupakan kisah nyata yang terjadi di tanah Jawa pada 28 Maret 1830. Tepatnya, berada ribuan kilometer dari posisi Raden Saleh saat itu. Pada mulanya, kisah tersebut diabadikan oleh Nicolaas Pieneman, seorang pelukis yang diminta mendokumentasikan momen penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Pemerintah Hindia-Belanda.

Pada lukisan karya Pieneman, digambarkan bahwa Pangeran Diponegoro pasrah saat ditangkap oleh pemerintah Hindia-Belanda. Lukisan tersebut juga menggambarkan keangkuhan seorang jenderal, De Kock yang berhasil menangkap Pangeran Diponegoro.

Meski sedang jauh di tanah rantau, Raden Saleh sempat melihat lukisan Pieneman saat berada di Eropa. Raden Saleh pun melakukan re-painting alias melukis kembali dengan versinya sendiri. Bukan sekadar melukis, karya seninya tersebut mengusung sudut pandang sebagai pribumi.

Ia membela Pangeran Diponegoro bahwa pahlawan nasional tersebut tak seperti yang digambarkan oleh Pieneman. Bukan tanpa alasan, Raden Saleh merasa memiliki koneksi kuat dengan Pangeran Diponegoro. Keluarga Boestaman, yang mana pun keluarganya Raden Saleh, banyak yang menjadi bagian pasukan Pangeran Diponegoro guna melawan Belanda.

Termasuk di antaranya ada sepupu Raden Saleh, bernama Raden Mas Sukur. Lalu, pamannya, Suroadimenggolo, dan putra keduanya Raden Mas Saleh yang semuanya ditangkap Belanda. Peristiwa ini memporakporandakan keluarga Raden Saleh dan membuat keluarganya kehilangan jabatan.

Perbedaan Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” versi Raden Saleh dengan Pieneman

Ilustrasi Lukisan

Sudut pandang yang menjadi penggerak dan pembeda paling utama antara lukisan karya Raden Saleh dengan Pieneman. Versi Raden Saleh memiliki komposisi serupa dengan lukisan Gallait yang menunjukkan semangat kebangkitan nasional sebagai bentuk kemarahan terhadap pengkhianatan Belanda.

Selain itu, sejarah lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” juga mencatat perbedaan versi Raden Saleh dengan Pieneman, di antaranya berikut ini:

  1. Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, sedangkan Raden Saleh melukiskan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah
  2. Judul lukisan Pieneman adalah “Penyerahan Diri Diponegoro”, seolah menggambarkan keputusasaan. Sementara itu, Raden Saleh memberikan judul “Penangkapan Diponegoro” yang sarat akan pemberontakan
  3. Hilangnya bendera Belanda yang dibuat oleh Pieneman dalam lukisan karya Raden Saleh.

Lukisan Raden Saleh tentang penangkapan pahlawan kemerdekaan ini rampung setahun setelah sketsa dibuat, yakni sekitar 1857. Hasil lukisan dari cat minyak tersebut kemudian diserahkan kepada Raja Belanda, Raja Willem III, sebagai pandangan ketidaksetujuan Raden Saleh atas penangkapan Pangeran Diponegoro.

Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” Saat Ini

Ilustrasi Lukisan Karya raen Saleh

Lukisan karya Raden Saleh tersebut diserahkan kepada Indonesia oleh pihak Kerajaan Belanda pada 1975. Momen tersebut bersamaan dengan wujud pelaksanaan perjanjian kebudayaan antara Indonesia-Belanda pada 1969.

Tahun 2013 lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” sempat direstorasi pernisnya oleh Susanne Erhards, ahli restorasi dari Jerman. Proses restorasi mendapat dukungan dari Yayasan Arsari Djojohadikusumo dan Goethe Institute Indonesia.

Selanjutnya, pada 27 September 2013, Yayasan Arsari Djoojohadikusumo melakukan serah terima hasil restorasi lukisan Raden Saleh kepada Sekretariat Negara. Desember 2014, lukisan tersebut dipindahkan dari Istana Merdeka ke Istana Kepresidenan Yogyakarta. Lalu, menjadi salah satu koleksi Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Nah, itulah penjelasan mengenai sejarah lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” ini diyakini sebagai bentuk kecaman Raden Saleh terhadap pemerintahan Belanda pada saat itu.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Captcha verification failed!
CAPTCHA user score failed. Please contact us!

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
26,900SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles