26.2 C
Jakarta
Wednesday, April 17, 2024

Inilah Sejarah dan Makna dari Tari Jaran Kepang

Jaran kepang yang biasanya juga disebut kuda lumping atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa. Tari ini menampilkan sekelompok prajurit yang tengah menunggang kuda dari anyaman rotan.

Tari jaran kepang ini merupakan kesenian rakyat, yang hingga saat ini masih tumbuh dan berkembang di banyak kelompok masyarakat di nusantara. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog.

Tarian tradisional yang dimainkan secara ”tidak berpola” oleh rakyat kebanyakan tersebut telah lahir dan digemari masyarakat, khususnya di Jawa. Sejak adanya kerajaan-kerajaan kuno tempo dulu.

Awalnya, menurut sejarah seni jaran kepang lahir sebagai simbolisasi bahwa rakyat juga memiliki kemampuan dalam menghadapi musuh ataupun melawan kekuatan istimewa kerajaan yang memiliki bala tentara.

Di samping itu, juga sebagai media menghadirkan hiburan yang murah-meriah. Namun, fenomenal kepada rakyat.

Sejarah Tari Jaran Kepang

Ilustrasi Tari Jaran Kepang

Dahulu, Jaran Kepang bukanlah sebuah seni pertunjukan, bukan pula dinamakan kesenian karena memang pada zaman tersebut tak ada istilah kesenian.

Jaran Kepang sendiri merupakan bagian dari ritual menolak bala, mengatasi berbagai musibah, meminta kesuburan pada lahan pertanian, mengharap keberhasilan panen, dan juga supaya masyarakat aman dan tenteram.

Pada zaman primitif terdapat kepercayaan bahwa kerusakan lingkungan, wabah penyakit, bencana alam dan sebagainya terjadi karena kekuatan roh nenek moyang.

Seiring dengan perjalanan waktu, setiap musibah, bencana atau berbagai masalah dalam kehidupan dihubungkan dengan roh nenek moyang. Lalu, disusun menjadi serangkaian cerita yang berkembang menjadi mitos yang diyakini oleh masyarakat.

Kemudian dilakukan upacara (ritus) dengan tujuan agar musibah tidak datang lagi. Kejadian yang berlangsung berulangkali kemudian berkembang menjadi berbagai simbol yang digunakan untuk kegiatan ritual.

Sejauh ini memang belum ditemukan data tertulis atau prasasti yang membahas soal Jaran Kepang. Yang ada baru relief candi, seperti di Candi Jawi, Pasuruan, yang memperlihatkan seorang perempuan bertapa dan pasukan berkuda yang diduga merupakan Dewi Kilisuci.

Jika yang disampaikan dalam cerita lisan selama ini benar. Kemungkinan Jaran Kepang sebagai tari kerakyatan kuno embrionya sudah ada pada abad ke-12 dan mulai kental pada abad ke-13 dan ke-14.

Pada masa kolonial telah ada catatan soal itu. Thomas Starmford Raffles dalam buku History of Java (1817) membicarakan sebuah pertunjukan di Jawa yang menggunakan imitasi kuda.

Makna Tari Jaran Kepang

Ilustrasi Tari Jaran Kepang

Meski sering membuat bergidik ngeri ketika melihat salah satu penari yang ndadi ditengah pagelarannya, ternyata tarian ini punya makna penting bagi kehidupan manusia yang bisa dipetik.

Misalnya, kehadiran roh ditandai dengan salah satu penari yang berubah sikap menjadi lebih bringas dan biasa disebut sebagai warok. Lawan dari warok gemblakan. Dari keduanya, masing-masing digambarkan sebagai singa hitam untuk warok, sedangkan merak untuk gemblakan.

Dan saat pagelaran Kuda Lumping berlangsung, terjadilah pertandingan antara warok dan gemblakan. Hubungan antara warok dan gemblakan inilah yang diibaratkan sebagai sifat-sifat manusia.

Ada yang baik dan ada pula yang jahat. Mereka yang baik biasanya diperagakan memiliki sifat yang sabar, lebih rendah diri, dan senang memberi petuah-petuah. Untuk mereka yang memiliki sifat jahat, akan memiliki sifat sombong, seenaknya sendiri, tamak, dan lebih liar.

Nah, itulah penjelasan mengenai tari jaran kepang yang merupakan kesenian rakyat, hingga saat ini pun masih tumbuh dan berkembang di banyak kelompok masyarakat di nusantara.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Captcha verification failed!
CAPTCHA user score failed. Please contact us!

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
26,500SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles