30.2 C
Jakarta
Thursday, May 30, 2024

5 Rivalitas Seniman dalam Sejarah Seni, Ada Leonardo da Vinci

Rivalitas ada di mana-mana, mungkin kita sendiri pernah mengalaminya saat di sekolah, ataupun tempat kerja.

Beberapa kompetisi yang bersahabat itu sehat, seperti yang dikutip jurnal Anatomical Sciences Education, yang terbit tahun 2015, karena hal ini dapat mendorong inovasi kreatif.

Akan tetapi, persaingan ini pernah melanda dunia seni, dan terkadang berakhir dengan perseteruan serius.

Seseorang mengkritik seni orang lain, dan kritikan itu justru dianggap sebagai kritikan terhadap kerja keras dan kreativitas mereka.

Bahkan, beberapa nama besar dalam sejarah seni rupa pun dihadapkan dengan persaingan sengit ini, dan persaingan mereka bisa dibilang cukup intens sehingga menjadi legenda yang terus dibicarakan beberapa dekade dan bahkan berabad-abad setelahnya.

Vincent Van Gogh dan Paul Gauguin

7 Rivalitas Seniman dalam Sejarah Seni, Ada Leonardo da Vinci

Selama hidupnya, Vincent Van Gogh berjuang agar karya seninya bisa diakui. Van Gogh menciptakan hampir 900 karya dalam waktu kurang dari satu dekade, kecepatan yang sangat luar biasa untuk seorang seniman.

Dia juga membangun koneksi dengan sesama seniman lain dan menciptakan komunitas seni.

Namun, hubungannya itu justru berakhir dengan tragedi. Hal itu terjadi pada tahun 1888. Van Gogh mendirikan sebuah studio seni kolaboratif di Arles, Prancis. Dia membujuk Paul Gauguin, seorang seniman Prancis, untuk bergabung dengannya.

Mereka menghabiskan musim gugur dengan mengerjakan lukisan bersama-sama, tetapi keadaan berubah menjadi buruk. Persaingan mereka terjadi karena masalah penyakit mental yang diderita Van Gogh.

Van Gogh sangat intens dan berani secara artistik, dan hal ini menyinggung Gauguin yang jauh lebih louche dan freewheeling. Setelah itu, Gauguin melarikan diri dari Arles dan tidak pernah bertemu Van Gogh lagi.

Michelangelo dan Raphael

7 Rivalitas Seniman dalam Sejarah Seni, Ada Leonardo da Vinci

Lebih dari empat abad setelah masanya, tidak ada yang menandingi pematung dan pelukis ulung ini.

Dia juga seorang seniman yang emosional. Salah satu pesaing Michelangelo adalah Raphael.

Dilansir laman The Art of Rivalry, persaingan mereka tercetus ketika paus mempekerjakan mereka.

Paus Julius II meminta Michelangelo untuk melukis dinding di langit-langit Kapel Sistina di Vatikan.

Raphael sendiri sudah ditugaskan terlebih dahulu untuk mengerjakan lukisan dinding di dekat kamar pribadi paus mereka berdua berpapasan saat mengerjakan seni tersebut.

Michelangelo memandang Raphael dan rombongannya dengan berkata, “Kamu dengan bandmu, seperti bravo.” Raphael, melihat bahwa Michelangelo sendirian, seperti biasa, ia membalas, “Dan kamu sendirian, seperti algojo.”

Michelangelo dan Leonardo da Vinci

7 Rivalitas Seniman dalam Sejarah Seni, Ada Leonardo da Vinci

Di awal kariernya, Michelangelo bersaing dengan Leonard da Vinci. Di Hall of the Five Hundred di Florence, Italia, tepatnya di dalam balai kota yang megah ini, kedua seniman itu mengerjakan mural untuk duel seni mereka.

Keduanya ditugaskan untuk membuat lukisan tentang adegan pertempuran besar, yang sekarang hilang.

Masalah dimulai pada 1503, saat da Vinci ditugaskan untuk melukis Pertempuran Anghiari. Setahun kemudian, Michelangelo ditugaskan untuk melukis Pertempuran Cascina.

Keduanya bekerja bersebelahan, di dinding yang sama di ruangan besar yang sama. Leonardo sudah berusia lima puluhan, sementara Michelangelo masih berusia dua puluh tahun ke atas.

Seniman yang lebih muda ini bahkan sangat frontal menghina da Vinci dengan menuduhnya tidak pantas.

Leonardo da Vinci kemudian membuat komentar pedas tentang gaya lukisan ‘kayu’ Michelangelo, dan bahkan mengatakan bahwa patung David yang dibuat pemuda itu tidak pantas untuk dilihat.

Leonardo meninggalkan pekerjaannya, yang mungkin masih dalam tahap renovasi, dan pindah ke Prancis.

Sedangkan Michelangelo berhasil melukis gambar berukuran penuh tetapi tidak pernah mengecatnya.

Willem de Kooning dan Jackson Pollock

7 Rivalitas Seniman dalam Sejarah Seni, Ada Leonardo da VinciPersaingan seni biasanya terjadi karena ketidaknyamanan. Pembuatan seni bisa sangat individualis dan memiliki kecemburuan. Atau, persaingan bisa terjadi karena komentar kritikus seni.
Itulah yang terjadi antara Willem de Kooning dan Jackson Pollock, dua raksasa seni abstrak di abad ke-20.
Keduanya diadu oleh Clement Greenberg dan Harold Rosenberg, dua kritikus seni New York.
Greenberg menyukai gaya Pollock yang luas dan luwes. Rosenberg, menyukai karya de Kooning yang lebih terstruktur.
Sambutan hangat untuk karya de Kooning menciptakan momen memalukan di mana Pollock mabuk di sebuah pesta karena tidak terima, dan menyerang rekan-rekan seniman lainnya.

Francis Bacon dan Lucian Freud

7 Rivalitas Seniman dalam Sejarah Seni, Ada Leonardo da Vinci

Francis Bacon dan Lucian Freud pertama kali bertemu di kancah seni London 1940-an, mereka langsung menjalin persahabatan yang sangat intens. Lalu, mereka sering bertemu hampir setiap hari.

Namun, ketika Freud dan Bacon melukis potret satu sama lain, mereka saling mengkritik pekerjaan satu sama lain. Saat karier mereka berkembang, persaingan mereka semakin tegang.

Pada tahun 1982, Bacon mengatakan bahwa karya terakhir Freud terlihat ‘konyol.’ Dia juga menambahkan bahwa karya seni yang dimiliki oleh Freud tidak pernah ditempatkan di museum atau galeri, bahkan untuk pertunjukan retrospektif besar karya Bacon.

Setelah mengetahui perkataan itu, Freud menyebut bahwa karya Bacon juga sangat ‘mengerikan’.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Captcha verification failed!
CAPTCHA user score failed. Please contact us!

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
26,800SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles