29.3 C
Jakarta
Saturday, August 13, 2022

Menlu Rusia Dekati Afrika di Tengah Kena Sanksi Negara Barat

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov baru saja menyelesaikan tur ke Afrika. Lavrov ingin memperkuat relasi dengan negara-negara Afrika di tengah sanksi dari negara-negara Barat.

Menurut laporan media pemerintah Rusia, TASS, Kamis (28/7/2022), negara terakhir yang dikunjungi Menlu Lavrov adalah Ethiopia. Isu kerja sama dalam satu abad terakhir menjadi topik diskusi. Menteri Luar Negeri Ethiopia Demeke Mekonnen berkata kunjungan Rusia tepat waktu untuk membahas krisis global dan kerja sama.

“Kunjungan dari kolega Rusia sangatlah tepat waktu. Kami memiliki diskusi yang sangat subur. Kami membahas topik-topik nasional, regional, dan global. Kami mengungkit krisis makanan saat ini dan kekhawatiran-kekhawatiran terkait agar bisa bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Mekonnen kepada media Izvestia.

Sementara, Sergey Lavrov menolak dunia yang berdasarkan kepentingan Barat saja. Ia pun memuji hubungan Rusia dengan Ethiopia. Lavrov berkata relasi kedua negara memiliki sejarah yang kaya raya dan panjang. Selanjutnya, Menlu Lavrov akan travel menuju Uzbekistan. Ia akan menghadiri Shanghai Cooperation Organization’s Council of Foreign Ministers.

Baru-baru ini, Sergey Lavrov juga baru datang ke Bali untuk menghadiri forum menteri luar negeri G20. Kedatangan Lavrov sempat diwarnai boikot foto bersama para menlu. Mereka menolak foto dengan Rusia. Sergey Lavrov juga disebut walk out, namun hal itu dibantah pihak Kedutaan Besar Rusia di Jakarta.

Jika Kita Diam, Rusia Akan Bertindak Makin Parah

Kedutaan Besar Federasi Rusia di Republik Indonesia

Duta Besar Ukraina di Indonesia, Vasyl Hamianin, mengaku lelah mendengar retorika Rusia yang terus berubah tiap harinya. Ia bahkan menyebut Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov sebagai menteri propaganda dan Presiden Vladimir Putin sebagai diktator.

Pernyataan itu ia ungkap pada konferensi pers virtual, Kamis (28/7/2022). Dalam kesempatan tersebut, Dubes Hamianin juga membahas soal gas, energi, dan retorika Rusia.

Baca Juga :  Review Film: The Medium

Dubes Hamianin berkata Ukraina ingin sekali mengirim gandum ke luar negeri. Namun, Rusia menghancurkan, menghalangi, dan menyegel infrastruktur-infrastruktur yang diperlukan.

“(Rusia) membakar bibit-bibit di ladang kita. Ini masih terjadi sayangnya. Mereka berusaha mendistraksi, menghancurkan logistik, menyegel gudang, serta infrastruktur-infrastruktur terkait pengiriman gandum untuk mencegah gandum Ukraina tiba ke pasaran, terutama pasar Afrika, dan sejumlah pasar Asia,” ucap Dubes Ukraina.

Terkait gas, Dubes Ukraina menyebut Rusia menggunakan gasnya untuk melakukan pemerasan kepada Eropa. Dubes Ukraina juga menuding Rusia ingin membuat Eropa membeku sampai mati walau Rusia telah membantah menggunakan energi sebagai senjata.

“Saya hanya lelah terhadap perubahan-perubahan retorika Rusia dan narasinya dan kebohongannya tiap hari. Tiap hari mereka berbohong tentang hal lain. Tetapi kita adalah orang-orang cerdas, kita orang-orang rasional, kita paham itu,” ujarnya.

Sebelumnya, Komisioner Anggaran dari Komisi Eropa Johannes Hahn turut menegaskan bahwa Rusia memainkan energi sebagai senjata. Hahn berkata Rusia akan rugi sendiri.

Jokowi dan Kishida Fumio Bahas soal Rusia-Ukraina hingga Situasi di Myanmar

Moment Presiden Jokowi bertemu Perdana Menteri Jepang Kishida Fumio, di Tokyo, Rabu, 27 Juli 2022 (sumber: BPMI Setpres/Laily Rachev)

Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Perdana Menteri (PM) Jepang Kishida Fumio membahas situasi kawasan dan kerja sama internasional, dalam pertemuan yang dilakukan di Kantor PM Jepang, Tokyo, Rabu (27/7).

Adapun isu kawasan yang dibahas oleh kedua pemimpin negara antara lain, mengenai agresi Rusia ke Ukraina, Laut China Selatan, hingga situasi kemanusian di Myanmar.

“Dalam working lunch setelah konferensi bersama ini, kami akan mendiskusikan situasi di kawasan dan kerja sama internasional,” kata PM Kishida dalam konferensi pers yang ditayangkan di Youtube Sekretariat Presiden, Rabu.

“Pembahasan situasi di kawasan antara lain, agresi Rusia ke Ukraina, Laut Tiongkok Timur dan Selatan, kebijakan terhadap Korea Utara seperti, isu nuklir, rudal, dan isu penculikan, serta situasi di Myanmar,” sambungnya.

Baca Juga :  Aksi Saling Serang Kembali Terjadi di Nagorno-Karabakh

Sementara itu, pembahasan kerja sama internasional antara lain, pelucutan senjata, Nonproliferasi senjata nuklir, serta peningkatan fungsi PBB. PM Kishida menyampaikan kunjungan Jokowi tersebut menjadi momentum mempererat hubungan Jepang-Indonesia.

“Kami akan menjadikan kunjungan Presiden Joko Widodo kali ini sebagai momentum untuk lebih lanjut mempererat hub Jepang-Indonesia mengingat kita akan memperingati 65 tahun hubungan Diplomatik dan 50 tahun persahabatan. Dan kerja sama Jepang-Asean pada tahun depan bersama dengan Indonesia, Jepang akan berkontribusi untuk kestabilan kawasan dan dunia,” jelas PM Kishida.

Nah, itulah penjelasan terkait menteri luar negeri Rusia mrmperkuat relasi dengan negara Afrika usai kena sanksi negara-negara barat.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
8,430SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles