34 C
Jakarta
Thursday, May 30, 2024

5 Kuliner Tradisional Khas Indonesia

Salah satu kekayaan budaya yang kita miliki sebagai bagian dari bangsa Indonesia adalah kuliner tradisional. Kuliner ini tidak hanya dibuat untuk memberikan kepuasan lidah dan perut. Namun, di dalamnya, terkandung juga nilai-nilai filosofis yang sarat makna.

Karena tumbuh bersama adat dan budaya suatu masyarakat yang khas, makanan tradisional kerap juga berfungsi sebagai simbol. Simbol inilah yang kemudian dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan. Penasaran sama kulinernya? Yuk, langsung saja disimak artikel dibawah ini:

Kue Apem

Ilustrasi Kue Apem

Apem adalah makanan tradisional yang mirip serabi. Makanan ini terbuat dari campuran tepung beras, telur, santan, gula, garam, dan tape. Sebelum dikukus atau dibakar, campuran ini akan didiamkan selama satu malam.

Penamaannya diyakini berasal dari bahasa Arab, yaitu afwan atau affuwun yang berarti maaf atau ampunan. Karenanya, apem menjadi simbol permohonan ampun kepada Tuhan. Bentuk apem yang bulat juga melambangkan tempat untuk berdoa.

Selain itu, sejak zaman dulu, kue apem selalu menjadi makanan yang biasa dibagikan kepada tetangga dan sanak saudara. Sehingga, kue ini juga melambangkan kesederhanaan dan simbol untuk sedekah.

Klepon

Ilustrasi Klepon

Siapa sih yang tidak tahu klepon? Camilan tradisional yang bertekstur lembut, manis, dan gurih ini begitu nikmat disantap. Klepon terbuat dari tepung beras yang dibentuk bola. Di dalamnya, diberi isian gula merah dan luarnya ditaburi kelapa parut. Biasanya klepon berwarna hijau karena pewarna alami yang berasal dari daun suji atau pandan.

Banyak sekali kebaikan yang bisa kita pelajari dari klepon. Bahan-bahan untuk membuatnya mudah didapat dan proses pembuatannya sederhana. Ini membuat klepon menjadi simbol untuk kesederhanaan. Kemudian rasa manis gula aren yang tersembunyi menyimbolkan bahwa meski tidak terlihat dari luar, kebaikan hati itu penting dimiliki.

Warna hijau klepon juga bermakna lambang kehidupan. Bentuknya yang bulat tidak sempurna, melambangkan hidup manusia yang memiliki sifat tidak sempurna dan tidak diketahui ujungnya. Meski begitu, manusia harus tetap menjaga hatinya agar tetap hidup dengan kebaikan.

Parutan kelapa yang tertabur di bagian luar klepon juga tidak bisa didapat dengan satu proses. Kelapa harus dikupas dari kulit, serabut, hingga batoknya untuk mengambil daging kelapa yang bisa diparut. Ini menunjukkan berbagai proses harus dilalui siapa pun untuk mendapatkan sesuatu.

Kolak

Ilustrasi Kolak

Kolak biasa dimasak ketika menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan. Makanan tradisional ini berkuah santan dengan campuran gula merah. Isian kuahnya bisa beraneka macam, mulai dari pisang, ubi, singkong, kolang-kaling, dll.

Kolak juga memiliki makna yang dalam. Nama kolak diyakini berasal dari kata khalaqa (menciptakan) atau khaliq (pencipta). Penamaan ini diambil dengan tujuan siapa pun yang memakan kolak akan teringat kepada Sang Pencipta.

Isian kuah kolak juga bukan sembarang isian. Misalnya, kita sering melihat kolak dengan isian pisang. Pisang yang digunakan biasanya jenis pisang kapok. Di mana, pisang ini memiliki arti “kapok”. Maknanya, kita harus kapok dan bertaubat atas dosa yang pernah kita lakukan.

Pada contoh lain, kolak juga memakai isian ubi jalar atau telo pendem. Ubi ini memiliki makna bahwa kita harus mengubur segala kesalahan yang telah kita lakukan. Sehingga ketika berbuka dengan kolak, kita seolah diingatkan untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kebiasaan berbagi kolak juga merupakan kebiasaan yang memiliki makna harus banyak melakukan kebaikan.

Nagasari

Ilustrasi Nagasari

Nagasari merupakan kue tradisional yang terbuat dari campuran adonan tepung beras, tepung sagu, santan, dan gula. Adonan ini kemudian diisi dengan irisan pisang. Setelah itu dibungkus daun pisang dan dimasak dengan cara dikukus.

Nagasari memiliki tekstur yang lembut dan lengket. Oleh karena itu, makanan ini biasanya menjadi simbol untuk mempererat persaudaraan. Makanan ini juga biasa disajikan ketika sedang mengadakan acara seserahan dalam pernikahan. Sehingga, nagasari juga memiliki arti harapan. Harapan agar pasangan yang kelak akan menikah dapat hidup rukun selamanya.

Jenang Sumsum

Ilustrasi Jenang Sumsum

Jenang adalah makanan tradisional masyarakat Jawa. Makanan ini terbuat dari tepung beras yang dimasak seperti bubur. Warnanya yang putih dan teksturnya yang lembut mirip sekali dengan sumsum. Maka dari itu jenang ini diberi nama jenang sumsum. Sebelum kita santap, bubur ini harus diberi siraman juruh atau air rebusan gula merah.

Warna putih dari jenang sumsum melambangkan kebersihan hati. Sedangkan manisnya juruh melambangkan kesejahteraan. Tekstur jenang yang kental dan lengket melambangkan kesatuan hidup di antara sesama manusia.

Karena jenang sumsum biasa disajikan disaat upacara pernikahan, makanan ini juga kerap dijadikan sebagai obat pelepas lelah. Setelah seharian lelah mengurus upacara pernikahan, energi kita akan kembali setelah mengonsumsi jenang sumsum ini.

Di antara kita pasti pernah mencicipi makanan tradisional di atas, meski tidak terlalu paham makna yang terkandung di dalamnya. Mungkin setelah tahu, kita dapat lebih menghargai makanan. Karena ternyata makanan yang sederhana pun dapat memberikan makna yang dalam.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Captcha verification failed!
CAPTCHA user score failed. Please contact us!

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
26,800SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles