26.2 C
Jakarta
Thursday, June 20, 2024

Rakyat di Negara ini Tak Berduka atas Wafatnya Ratu Elizabeth II

Ketika Ratu Elizabeth II dari Inggris meninggal dunia pada 8 September 2022, banyak sekali pejabat tinggi negara yang mengucapkan belasungkawa. Mereka juga ikut berduka atas berpulangnya Ratu Inggris yang telah berkuasa selama 70 tahun tersebut.

Ada jutaan rakyat negeri persemakmuran Inggris yang ikut bersedih atas kepergian Ratu Elizabeth II. Tetapi, banyak juga rakyat yang masih memiliki kenangan pahit dan sisa kemarahan atas dampak buruk kolonisasi yang dilakukan oleh Inggris. Berikut dibawah ini adalah reaksi rakyat dari negara-negara yang masih menyimpan kemarahan tersebut:

Warga Kenya Mengingat Kekejaman Kolonial Inggris

Inggris adalah salah satu negara kekuatan kolonial utama. Negara tersebut memiliki banyak wilayah jajahan di dunia, membentang dari mulai Afrika, Asia, Amerika Latin hingga Karibia.

Warisan kolonialisme Inggris, dari mulai perbudakan, kekejaman fisik, hingga penjarahan artefak bersejarah, masih dikenang oleh banyak rakyat di negeri bekas jajahan.

Di Afrika, beberapa orang Kenya tidak bisa mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Ratu Elizabeth II. Alice Mugo, seorang pengacara di negara itu, mengunggah foto dari tahun 1956, empat tahun setelah Ratu Inggris menduduki singgasana.

Dokumen tersebut adalah pemandangan suram kamp-kamp yang berisi orang Kenya yang tertindas. Mereka dipaksa meminta izin Inggris hanya untuk pergi dari satu tempat ke tempat lainnya pada saat itu.

“Sebagian besar kakek-nenek kami tertindas. Aku tidak bisa berduka,” kata Mugo dalam unggahan akun media sosialnya.

Tetapi, Presiden Kenya Uhuru Kenyatta mengabaikan masa lalu pahit tersebut. Ayahnya, Jomo Kenyatta, adalah pejuang yang dipenjara selama pemerintahan Ratu Inggris. Kenya meraih kemerdekaan dari Inggris pada 12 Desember 1963.

Oposisi Afrika Selatan Tidak Berduka atas Kematian Elizabeth II

Di Afrika Selatan, ekspresi berbeda juga terungkap saat Ratu Elizabeth II wafat. Presiden Cyril Ramaphosa menggambarkan ratu sebagai figur yang menjadi teladan mulia dan berbudi luhur.

Tetapi, ekspresi berbeda dikeluarkan oleh kelompok oposisi Economic Freedom Fighters. Mereka mengatakan bahwa anggota partai politiknya tidak berduka atas kematian Sang Ratu.

“Karena bagi kami kematiannya adalah pengingat periode yang sangat tragis di negara ini dan sejarah Afrika,” kata partai tersebut.

Economic Freedom Fighters menyalahkan Ratu Inggris karena tidak mau mengakui kekejaman kerajaan monarki tersebut, dan tidak meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan di banyak dunia.

“Jika benar-benar ada kehidupan dan keadilan setelah kematian, semoga Elizabeth dan leluhurnya mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan,” kata Economic Freedom Fighters.

Kekecewaan Para Akademisi atas Kekuasaan Ratu Elizabeth II

Meski sebagian besar masyarakat di dunia bersedih atas kematian Ratu Inggris, para akademisi Kajian Afrika tidak demikian. Profesor Universitas Cornell, Mukoma Wa Ngugi, mengecam teater di sekitar kematian Ratu.

Dalam salah satu unggahan media sosialnya, dia menilai teater sekitar kematian Ratu Elizabeth tidak masuk akal.

Wa Ngugi, yang juga sastrawan, mengatakan akan melakukan hal yang manusiawi jika Ratu Elizabeth semasa hidup minta maaf atas perbudakan, kolonialisme dan neokolonialisme serta menawarkan reparasi bagi jutaan nyawa yang hilang di negara terjajah.

Priyamvada Gopal, profesor studi pascakolonial Universitas Cambridge, mengatakan bahwa monarki Inggris datang untuk mewakili ketidaksetaraan yang dalam.

Mantan wakil menteri luar negeri di bawah Presiden Barack Obama, Richard Stengel, juga mengkritik liputan media tentang kematian Ratu Inggris. Dia mengakui pelayanan tak tertandingi dari Sang Ratu, tetapi keluarga kerajaan memiliki warisan kolonialisme yang efeknya sangat mengerikan di sebagian besar dunia.

Hubungan Rumit Antara Sistem Monarki Inggris dengan Rakyat Wilayah Jajahannya

Uju Anya, seorang profesor dari Carnegie Mellon University, Amerika Serikat (AS), juga salah satu orang yang tak ikut berkabung atas kematian Ratu Inggris. Dia lahir dari orang tua Trinidad dan Nigeria yang pernah dijajah oleh Inggris.

“Selain penjajahan di pihak Nigeria, ada juga perbudakan manusia di Karibia. Jadi ada garis keturunan langsung yang saya miliki bukan hanya orang-orang yang dijajah, tetapi juga orang-orang yang diperbudak oleh Inggris,” katanya.

Matthew Smith, profesor sejarah di University College London, menilai reaksi-reaksi kemarahan dan kekecewaan tersebut merupakan hubungan yang rumit antara monarki Inggris dan orang-orang di kerajaan tersebut.

Menurut Smith yang dilahirkan di Jamaika, wilayah bekas jajahan Inggris, reaksi orang-orang itu tidak secara khusus tentang Ratu Elizabeth. Tapi tentang monarki Inggris sebagai institusi dengan sistem penindasan dan represi.

“Dan itu adalah sistem yang ada di luar pribadi Ratu Elizabeth,” katanya.

Nah, itulah penjelasan mengenai banyak rakyat yang masih memiliki kenangan pahit dan sisa kemarahan atas dampak buruk kolonisasi yang dilakukan oleh Inggris pada masa lampau.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Captcha verification failed!
CAPTCHA user score failed. Please contact us!

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
26,800SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles