25.6 C
Jakarta
Friday, April 12, 2024

Belanda Resmi Mengakui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte akhirnya mengakui Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Rutte menegaskan hal ini dalam debat penyelidikan Perang Kemerdekaan Indonesia di Den Haag.

Dilansir dari Algemmen Dagblad, pada Kamis (15/6/2023) Rutte menegaskan bahwa Belanda telah mengakui sepenuhnya dan tanpa syarat bahwa Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

“Secara de facto, Belanda sudah mengakui kemerdekaan Indonesia. Hampir setiap tahun, Raja Belanda mengirim ucapan selamat ke Indonesia pada tanggal 17 Agustus,” kata Rutte.

Walaupun demikian, tanggal yang dirujuk oleh Belanda adalah 27 Desember 1949, ketika Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia.

Perang Kemerdekaan Indonesia Sempat Menjadi Perdebatan

Ilustrasi Perdana Menteri Belanda Mark Rutte

Sementara itu, DPR Belanda sempat memperdebatkan perang kemerdekaan Indonesia dari 1945 hingga 1949 yang diterbitkan pada bulan Februari 2023. Laporan ini menggambarkan keseraman perang pada saat itu, meski ditekankan bahwa tidak ada kekerasan insidental dari Belanda.

Namun, kekerasan skala besar oleh Angkatan Bersenjata Belanda saat itu sengaja dikerahkan. Pada tahun 2011, kabinet Belanda sempat meminta maaf kepada rakyat Indonesia atas penjajahan yang dilakukan di masa lampau.

Permintaan Maaf dari Belanda ke Indonesia

Ilustrasi Perdana Menteri Belanda Perdana Mark Rutte dan Presiden Indonesia Joko Widodo

Pada tahun 2020, Rutte sempat menolak untuk meminta maaf ke Indonesia atas penjajahan yang dilakukan oleh negaranya. Rutte berpendapat bahwa hal tersebut malah akan mempertajam polarisasi di masyarakat Belanda.

Pemikiran Rutte kemudian berubah ketika melakukan kunjungan ke salah satu negara bekas koloni Belanda, Suriname. Melalui pidatonya di tahun lalu, ia merasa perlu adanya pembicaraan mendalam tentang topik ini.

“Sebagian karena seluruh diskusi yang muncul seputar gerakan Black Lives Matter. Hal itu benar-benar membuat saya berpikir berbeda tentang topik ini,” kata Rutte, kala itu.

Pada pernyataan resminya, Rutte berpendapat bahwa meskipun sudah tidak ada lagi orang yang hidup di masa tersebut, hal ini masih menjadi bab sejarah yang masih belum terselesaikan.

Oleh karena itu, pada peringatan 150 tahun penghapusan perbudakan di Belanda yang jatuh pada tahun depan, Rutte berharap topik besar ini dapat terus dibicarakan dan didiskusikan.

Belanda Menjadi Salah Satu Pemerintah Terakhir yang Menghapus Perbudakan

Ilustrasi Bendera Indonesia

Pada abad ke-16 hingga ke-19, Belanda terlibat aktif dalam perdagangan budak trans-Atlantik. Sejarah kelam di mana banyak penduduk asal Benua Afrika yang dipindahkan secara paksa untuk bekerja di Benua Amerika. Pada masa ini, Belanda memiliki wilayah koloni yang sangat luas mulai dari Suriname, Afrika Selatan, Curaçao, hingga Indonesia.

Perusahaan seperti Dutch West India Company (GWC) dan Dutch East India Company (VOC) menjadi pemeran utama dalam perdagangan budak, faktor yang membantu Belanda memasuki masa keemasan, dan menjadi kekuatan ekonomi global pada saat itu.

Museum Nasional Belanda, Rijksmuseum juga mengungkapkan bahwa Belanda menjadi salah satu negara terakhir yang menghapuskan sistem perbudakan. Hal itu terjadi pada tahun 1863 dan baru benar-benar efektif pada 10 tahun kemudian. Peristiwa itu akhirnya diperingati setiap tanggal 1 Juli dan dikenal dengan nama Keti Koti yang memiliki arti “rantai putus”.

Nah, itulah penjelasan mengenai Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte yang akhirnya mengakui Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Rutte menegaskan hal itu dalam debat penyelidikan Perang Kemerdekaan Indonesia di Den Haag.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Captcha verification failed!
CAPTCHA user score failed. Please contact us!

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
26,500SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles