32.4 C
Jakarta
Wednesday, February 21, 2024

6 Cara Mengatasi Stres supaya Kesehatan Mental dan Fisik Terjaga

Kesehatan mental dan fisik bisa menjadi korban ketika stres yang kita alami tidak kunjung diatasi. Ya, stres biasanya terjadi ketika kita dihadapkan pada situasi yang sulit atau perubahan secara tiba-tiba. Hal tersebut bisa terjadi dalam waktu yang sebentar. Namun, untuk beberapa kasus, dapat berlangsung secara berkepanjangan. Meski stres lumrah terjadi, stres sebaiknya segera dicarikan jalan keluar supaya tidak menyebabkan konsekuensi kesehatan.

Namun, bagaimana cara mengatasi stres? Simak yang berikut ini.

Apa itu stres dan seperti apa mekanismenya?

Ilustrasi stres

Pakar hubungan pikiran, tubuh, dan lingkungan Esther M. Sternberg, MD mengatakan, ada respons “fight or flight” ketika menghadapi stres. Respons dari stres tersebut membuat kita dapat memilih menghindar atau menghadapi situasi yang membuat kita stres. Ia menerangkan, dalam hitungan detik bahkan tanpa berpikir sekalipun, tubuh dapat memompa zat kimia dan hormon ke organ otak saat stres.

Zat kimia dan hormon yang dipompa termasuk adrenalin (hormon yang membantu ketika sutuasi berbahaya) dan kortisol (hormon stres). Dalam hal ini, Sternberg menyebut detak jantung akan meningkat yang diiringi dengan sel darah merah berisi oksigen yang memenuhi aliran darah. Sistem kekebalan tubuh juga bersiap untuk menghadapi kemungkinan cedera, dan energi dialihkan ke otot, otak, jantung, dan paru-paru. Selanjutnya, sumber energi juga dijauhkan dari pencernaan dan rasa lapar supaya bisa ditahan hingga situasi sulit berlalu.

Ketika hal itu terjadi maka otak melepaskan endorfin untuk mengurangi rasa sakit dan cedera. Menambahkan penjelasan Sternberg, profesor psikologi Universitas Harvard Ellen J. Langer menyebut stres sebenarnya bergantung dari sudut pandang kita. Apabila kita memandang sesuatu yang terjadi sebagai hal negatif, maka tubuh sudah menyiapkan dirinya untuk mengalami stres.

Dampak stres

Ilustrasi stres

Kita biasanya sulit konsentrasi di sekolah atau kantor ketika stres mendera. Namun, stres bisa menjadi kronis jika kita tidak bisa memulihkan diri. Hal tersebut dikatakan profesor neuroendokrinologi Rockefeller University, New York, Bruce S. McEwen, M.D, dilansir dari Real Simple. Dalam hal ini, ia mengatakan persepsi dan respons fisiologis bisa menyebabkan stres hanya dengan membayangkan situasi yang menjadi pemicunya.

Misalnya ketika kita membayangkan kecelakaan lalu lintas dan terus-menerus membayangkannya, hal ini bisa mengaktifkan respons stres meski bayangan kita tidak terjadi. Di samping itu stres memungkinkan kita terserang penyakit, seperti dikatakan McEwen. Pasalnya stres yang pernah dialami ketika anak-anak dan berbagai peristiwa yang mengiringinya dapat mengubah cara otak berkembang.

McEwen menjelaskan bahwa hal tersebut bisa berdampak pada sistem kekebalan dan endokrin. Tidak mengherankan jika kita yang lebih sensitif dengan stres lebih mungkin terganggu kesehatannya di kemudian hari.

Cara mengatasi stres

Ilustrasi stres

Ada enam cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres. Simak yang berikut ini.

Temukan cara mengontrol stres

Sternberg mengatakan bahwa stres dapat dikontrol apabila kita terbiasa menghadapi situasi tidak mengenakan, bahkan berbahaya. Ia mencontohkan bagaimana pilot, pemadam kebakaran, dan ahli bedah saraf yang respons stresnya dilatih untuk memantau perilakunya. Pekerjaan-pekerjaan tersebut membuat orang yang menjalankannya merasakan detak jantung berdebar hingga napas yang dangkal.

Mereka mengalami gairah fisiologis yang mendefinisikan stres, tetapi mereka tidak menyebut situasi sebagai stres sehinga bisa memegang kendali. Selain itu, stres bisa dikendalikan dengan membuat daftar tugas apa saja yang perlu untuk diselesaikan -terutama dalam waktu singkat. Apabila satu per satu tugas terselesaikan, hal ini membuat kita merasa memegang kendali dan stres bisa berkurang.

Beristirahat

Sterberg menyarankan kita untuk mengambil waktu beristirahat supaya merasa lebih tenang. Misalnya dengan berakhir pekan di pantai, memasak, menonton acara komedi, melukis, atau berjalan kaki secara singkat. Kegiatan-kegiatan yang sudah disebutkan dikatakan Sternberg dapat membuat perubahan.

Berkomunikasi dengan orang lain

Sebagian dari kita memilih untuk menyendiri ketika stres. Namun, hal ini tidak disarankan profesor psikologi University of California, Shelley E. Taylor, Ph.D. Ia menyarankan kita untuk berkomunikasi dengan saudara atau teman untuk meminta beberapa saran sembari bersantai. Meski terlihat sederhana, cara ini memungkinkan kita untuk berkembang dan hubungan sosial yang kuat dapat membantu hidup lebih lama.

Makan makanan bergizi

Ketika kortisol jumlahnya meningkat, kita biasanya mengalami rasa lapar sehinhgga terdorong untuk makan berlebihan. Dan, salah satu pelariannya adalah melahap banyak junk food yang sebenarnya tidak memberikan “bahan bakar” atau nutrisi. Meski junk food terlihat menarik, kita sebaiknya memprioritaskan makanan yang mengenyangkan dengan gizi seimbang.

Terus bergerak

Sebagian dari kita menjadi ogah-ogahan untuk berolahraga ketika merasakan stres. Padahal membuat tubuh terus bergerak membuat kita menjadi lebih tahan dengan stres. Dalam hal ini, latihan aerobik dalam bentuk apa pun bisa dicoba untuk mengurangi respons biologis terhadap stres. Selain itu kita juga bisa berjalan untuk melepaskan endorfin yang menenangkan kacaunya pikiran. Latihan aerobik juga membantu meredakan insomnia yang menjadi pemicu dan gejala stres. Tidak ada salahnya juga mengombinasikan gerakan agar stres hilang dengan latihan pernapasan, termasuk yoga dan tai chi.

Relaksasi

Secara fisiologis, relaksaski merupakan kebalikan dari stres. Pasalnya ketika kita santai, pernapasan dan detak jantung melambat serta pikiran menjadi lebih jernih. Sementara itu, relaksasi bisa dibarengi dengan latihan mindfulness untuk mencapai tingkat relaksasi dalam berbagai teknik, seperti yoga, meditasi, atau latihan relaksasi sederhana.

Respon relaksasi dasar pertama kali dijelaskan pada tahun 1975 oleh ahli jantung, pelopor kedokteran pikiran-tubuh, dan peneliti Harvard Medical School Herbert Benson, MD. Cara tersebut bisa dilakukan dengan dua langkah, yakni tutup mata dan fokus pada napas. Kemudian pilih frasa, kata, atau doa dan ulangi untuk tetap pada saat ini dan secara perlahan-lahan.

Nah, itulah penjelasan mengenai apa itu stres dan respons dari stres tersebut membuat kita dapat memilih menghindar atau menghadapi situasi yang membuat kita stres. 6 cara mengatasi stres supaya mental dan fisik tetap terjaga.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Captcha verification failed!
CAPTCHA user score failed. Please contact us!

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
26,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles