26.1 C
Jakarta
Wednesday, April 17, 2024

Terjadi Pertempuran Lagi di Sudan

Pertempuran di Sudan kembali menyala setelah kesepakatan gencatan senjata berakhir antara tentara pemerintah dengan pasukan Rapid Support Forces (RSF). Pada Minggu (4/6/2023) suara tembakan kembali terdengar di Khartoum, ibukota Sudan dan di wilayah Darfur.

Para penduduk di ibukota merasakan teror atas ledakan kekerasan yang terbaru. Mereka menyebut situasi seperti berada di neraka. Di Darfur, laporan sementara yang berkembang menyebutkan bahwa kekerasan terbaru telah menewaskan 40 orang dan melukai puluhan orang lainnya.

Saudi-AS Mendesak Untuk Menyepakati Gencatan Senjata Baru

Perang yang terjadi di Sudan saat ini adalah perebutan kekuasaan antara militer pemerintah yang dipimpin oleh Abdel-Fattah Burhan dengan pasukan RSF yang dipimpin Mohammed Hamdan Dagalo. Pertempuran pecah pada pertengahan April yang telah menewaskan ratusan orang.

Upaya untuk mendamaikan kedua pihak telah ditengahi oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) sehingga mereka menyepakati gencatan senjata pada tanggal 21 Mei. Tetapi usai kesepakatan itu habis, pertempuran kini kembali terjadi.

Dilansir dari Associated Press, Saudi dan AS kembali mendesak pihak bertikai Sudan untuk menyetujui dan menerapkan kesepakatan gencatan senjata baru. Tujuan utama dari desakan tersebut untuk menghentikan permusuhan secara permanen.

Riyadh dan Washington juga terus melakukan pembicaraan yang fokus pada upaya memfasilitasi pemberian bantuan kemanusiaan. Mereka mendesak kesepakatan jangka pendek yang harus diambil sebelum pembicaraan dilanjutkan.

Sejauh ini, Saudi dan AS menangguhkan pembicaraan karena pelanggaran serius yang berulang terhadap gencatan senjata jangka pendek. AS menjatuhkan sanksi kepada perusahaan pertahanan utama Sudan yang dijalankan oleh militer dan RSF.

Para Penduduk Mengatakan Seperti Berada di Neraka

Kekerasan terbaru meletus di Khartoum dan beberapa bagian Omdurman. Pesawat militer dilaporkan membom posisi RSF. Ada laporan pesawat tempur milik militer pemerintah jatuh karena kerusakan teknis, tetapi RSF mengklaim sebagai pihak yang menjatuhkannya.

“Di Khartoum selatan kami hidup dalam teror pengeboman dengan kekerasan, suara senjata anti-pesawat dan pemadaman listrik. Kami benar-benar berada di neraka,” ucap Sara Hassan, penduduk ibukota yang dilansir dari Al Jazeera.

Situasi pertempuran terbaru semakin kacau karena menyebabkan banyak kerusakan dan penjarahan. Layanan kesehatan lumpuh, pemadaman listrik dan air terjadi. Penderitaan bertambah karena berkurangnya persediaan makanan.

Di Darfur Situasi di Luar Kendali

Selain di ibukota, pertempuran yang mematikan juga pecah di Darfur. Wilayah tersebut telah lama bergulat dengan kerusuhan yang berkepanjangan. Pertempuran terjadi pada Jumat dan Sabtu pekan lalu, khususnya di kota Kutum.

Dilansir dari VOA News, RSF mengklaim telah mengambil alih kota itu yang dibantah oleh tentara pemerintah. Darfur Bar Association, pemantau hak asasi manusia di wilayah itu melaporkan pertempuran merenggut 40 nyawa dan menyebabkan puluhan orang lainnya luka-luka.

Mini Minawi, Gubernur Darfur yang dekat dengan tentara mengecam aksi penjarahan dan menyatakan bahwa wilayah tersebut sebagai zona bencana. Dia meminta bantuan dari masyarakat internasional. Gubernur Darfur Barat, Khamis Akbar mengatakan situasinya telah berada di luar kendali.

Nah, itulah penjelasan mengenai pertempuran yang terjadi lagi di Sudan. Pertempuran tersebut terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata berakhir antara tentara pemerintah dengan pasukan Rapid Support Forces (RSF).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Captcha verification failed!
CAPTCHA user score failed. Please contact us!

Stay Connected

23,893FansLike
1,879FollowersFollow
26,500SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles